click tracking
Kebidanan: PERSALINAN DENGAN DUKUN

Kamis, 03 Februari 2011

PERSALINAN DENGAN DUKUN


Dukun adalah seseorang yang membantu masyarakat dalam upaya penyembuhan penyakit melalui tenaga supranatural, namun sebagian dari mereka menyalahgunakan ilmu supranatural tersebut untuk menciptakan "penyakit baru", kepada masyarakat. Kebudayaan Dukun dapat ditemukan di seluruh dunia, mereka dapat terbagi berbagai macam aliran dan ilmu, Dukun Pawang Hujan, Dukun Pawang Hewan, Dukun Santet, Dukun Pelet, Dukun Pijat, Dukun Bayi (Bidan Desa), Dukun Ramal, dan lain sebagainya.
Dukun adalah sebutan untuk mereka dalam bahasa Indonesia. Di luar negeri mereka disebut dengan macam macam nama: Clairvoyant (Inggris), Macumba, Xango (Brazil), Obeah, Santeria (Jamaica), Voodoo (Afrika bagian Barat), yang berkembang pula hingga Haiti di Kepulauan Karibia, kejawen (Jawa).
Kata Dukun sendiri, bagi Orang Melayu Sumatera Timur sering di tabalkan untuk Dukun Patah (tabib spesialis tulang), Dukun urut/ Tukang Kusuk (pemijat) atau Dukun Beranak (Bidan tradisional). Di perkampungan yang sudah ada bidan, terkadang dukun beranak tetap difungsikan karena diyakini bahwa dukun beranak mempunyai kemahiran ganda yaitu membantu persalinan dan juga menguasai ilmu ghaib. Diyakini bahwa perempuan yg akan dan sedang menjalani persalinan sering diganggu makhluk gaib.
Sebagian besar masyarakat yang memilih tenaga non kesehatan dalam menolong persalinannya mengakui bahwa dukun memiliki kelebihan dibandingkan tenaga medis lainnya dalam menangani persalinan antara lain : Siap diminta pertolongan kapan saja dibutuhkan, mudah dijangkau, biaya persalinan lebih murah, imbalan dapat diganti denga barang serta adanya hubungan yang akrab dan bersifat kekeluragaan dengan ibu-ibu yang ditolongnya. Selain itu dukun bayi bersedia membantu pelaksanaan upacara tradisional yang berkenaan dengan kehamilan dan persalinan yang masih dianut masyarakat.
Status kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM).  Berkaitan dengan itu kualitas, kuantitas dan profesionalisme bidan akan menjadi fokus perhatiannya dalam menjelankan proses pembangunan. Berdasarkan IPM jabar 2007, angka kematian ibu berkisar 307/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan kematian bayi mencapai 43,4/100 kelahiran hidup. Selain itu 38,77 % penolong kelahiran adalah non medis. Akibatnya beresiko pada kematian bayi dan ibu melahirkan. Lebih dari 400.000 kelahiran ternyata masih ditangani oleh tenaga non kesehatan. Terkait dengan hal itu bidan sebagai pihak yang berkompeten memiliki andil sangat signifikan bagi kelangsuran kesehatan ibu dan anak terlebih dalam proses persalinan. Bidan juga harus menjalin kemitraan dengan para akademisi dan organisasi profesi lainnya agar kondisi kesehatan ibu dan anak pasca persalinan meningkat.
Program penempatan Bidan Di Desa (BDD) yang belum merata di daerah merupakan masalah utama bagi daerah itu sendiri, baik dari segi jumlahnya maupun dari segi sarana fisiknya. Di satu sisi masih ada beberapa desa yang mempunyai masalah kesehatan yang tingkat kematian ibu hamil, bayi dan balitanya masih tinggi, di sisi lain program penempatan BDD yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kematian ibu hamil, bayi dan balita belum menunjukkan hasil yang optimal, karena masih banyak persalinan yang terjadi di beberapa daerah dilakukan oleh dukun bayi, berarti Dukun Bayi masih dibutuhkan oleh masyarakat setempat, dan masih mengandalkan kepiawian Dukun Bayi dalam menolong persalinan, sekalipun secara medis berisiko tinggi terhadap kematian ibu hamil, bayi dan balitanya
Selain itu terdapat pula beberapa perbedaan antara persalinan yang dilakukan oleh dukun atau oleh bidan.
Persalinan oleh dukun :
1.       Dukun bukan merupakan tenaga terlatih
2.     Peralatan kurang lengkap
3.     Kesterilan kurang
4.     Privasi klien kurang terjaga
5.     Bila ada kegawatdaruratan tidak dapat segera tertangani
Persalinan oleh bidan:
1.       Bidan merupakan tenaga terlatih
2.     Peralatan lengkap
3.     Kesterilan terjaga
4.     Privasi klien terjaga
5.     Bila ada kegawatdaruratan dapat segera tertangani
Melihat dari hal-hal tersebut, bagaimana persalinan oleh dukun dan bagaimana persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan dan upaya meminimalisasi dan menurunkan tingkat kematian ibu hamil, bayi dan balita, maka semua persalinan yang ditangani oleh dukun bayi, harus beralih ditangani oleh BDD, kecuali hal-hal yang berhubungan dengan adat dan kebiasaan masyarakat setempat, dengan menjalin hubungan kemitraan antara keduanya
Hasil temuan dilapangan menunjukkan bahwa kemitraan BDD dengan Dukun bayi sudah menampakkan tanda-tanda yang menggembirakan, berjalan lancar, saling mendukung tanpa menimbulkan images persaingan, pasaran kerja, dan mengurangi status dukun bayi sebagai tokoh masyarakat. Tetapi kemitraan yang sementara berjalan sekarang ini masih dalam batas pemaknaan transfer knowledge, masih dalam bentuk pembinaan cara-cara persalinan yang hygien BDD kepada Dukun Bayi, berarti belum ada dalam bentuk kesepekatan uraian tugas dan fungsi masing-masing, juga belum mengarah pada alih peran pertolongan persalinan secara optimal. Namun dikhawatirkan di masa mendatang, pembinaan yang dilakukan oleh BDD justru memberikan peran baru Dukun Bayi, menambah prestasenya, dan menaikkan status mereka, bahkan semakin menambah kepercayaan mereka menjalankan profesinya secara sendiri-sendiri
Sebagian masyarakat kita masih menggunakan tenaga non kesehatan seperti dukun beranak untuk melakukan proses persalinan. Paradigma ini sebenarnya harus sudah diubah. Kita sudah melakukan berbagai upaya termasuk sosialisasi agar seluruh persalinan bisa ditangani tenaga kesehatan, sedangkan untuk tenaga non medis seperti dukun beranak peranannya lebih ditekankan pada paska persalinan saja.
Yang mempengaruhi pemilihan pertolongan persalinan oleh masyarakat :
1. Pendidikan
Pendidikan ibu berhubungan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan mengingat bahwa pendidikan dapat mempengaruhi gaya intelektual seseorang dalam memutuskan suatu hal termasuk penentu pertolongan persalinan. Pendidikan ibu yang kurang menyebabkan daya intelektualnya masih terbatas sehingga perilakunya masih terpengaruhi oleh keadaan sekitarnya ataupun perilaku kerabat lainnya atau orang yang mereka tuakan.
2. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam rangka perubahan pola pikir dan perilaku suatu kelompok dan masyarakat. Pengetahuan ini terkait dengan lingkungan dimana masyarakat menetap. Keadaan lingkungan sekitar sedikit banyak akan mempengaruhi pengetahuan. Dalam hal ini pengetahuan mengenai kehamilan dan persalinan. Disamping itu, keterpaparan dengan media komunikasi akan mempengaruhi kadar pengetauhannya.
3. Status Keluarga (Sosial Ekonomi)
Faktor penyebab masih tingginya proses persalinan melalui dukun beranak selain faktor tradisi biasanya dipengaruhi juga oleh faktor sosial ekonomi. Namun, untuk alasan ekonomi sebenarnya bisa diantisipasi dengan adanya program bantuan dana persalinan bagi keluarga miskin.
Sebagian besar masyarakat dengan status warga miskin memiliki Kartu Jamkesmas sehingga mereka hanya membayar sedikit saja ketika bidan membantu proses persalinannya karena biaya kesehatan mereka telah disubsidi oleh pemerintah melalui pemilikan Kartu Jamkesmas. Begitu pula jika masyarakat memiliki SKPM dari kecamatan setempat maka mereka akan mendapatkan keringanan biaya pada sarana pelayanan kesehatan (RS, Puskesmas atau Puskesmas Pembantu).  Dengan demikian keberadaan jaminan pembiayaan kesehatan sangat berarti dengan melihat cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada keluarga dengan status warga miskin lebih besar dibanding pemilihan tenaga kesehatan.
4. Kebiasaan Keluarga
Kebiasaan merupakan suatu bentuk perbuatan berulang-ulang dengan bentuk yang sama yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan-tujuan jelas dan dianggap baik dan benar. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-sehari dimana ia hidup dan dibesarkan. Kebiasaan merupakan suatu hal mendasar yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk perilaku kesehatan dalam hal ini kehamilan dan persalinan. Namun, faktor pendidikan dan pengetahuan memiliki andil dalam mengubah kebiasaan tersebut. Masayrakat menyatakan merka telah membuktikan khasiat pengobatan yang biasanya orang tua atau orang yang mereka tuakan lakukan, dan itu tidak kalah mujarabnya dengan obat-obatan kimia yang ada pada saat ini. Padalah, kerabat mereka yang lebih tua hanya melafalkan baca-baca untuk menyembuhkan penyakitnya atau penyakit seseorang. Kepercayaan akan kebiasaan hal tersebut mereka bawa saat ini meskipun tidak sepenuhnya dibenarkan.
5. Keterjangkauan Sarana Pelayanan Kesehatan
Selain keempat faktor tersebut salah satu faktor lain yang mempengaruhi pemilihan pertolongan persalinan oleh masyarakat adalah keterjangkauan sarana pelayanan kesehatan. Masalah keterjangkauan sarana pelayanan kesehatan tidak begitu berarti untuk menjadi faktor penentu pemilihan pertongan persalinan oleh ibu bersalin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar