click tracking
Kebidanan: PENILAIAN KLINIS MASA NIFAS

Minggu, 16 Januari 2011

PENILAIAN KLINIS MASA NIFAS


PEMERIKSAAN KONDISI IBU

PADA MASA NIFAS

Pemeriksaan kondisi ibu pada masa nifas meliputi :

1. Umum

a. Suhu Tubuh

Suhu tubuh diperiksa pagi dan sore hari. Pada bagian kebidanan, suhu tubuh yang melebihi 37,22oC harus dilaporkan kepada bidan kepala di bangsa yang akan menghubungi dokter jika suhu tersebut naik di atas, 37,5oC.

Kenaikan suhu yang sedikit sering dijumpai pada sekitar hari ke-4 dan mungkin menyertai aktivitas payudara. Kenaikan suhu dapat disebabkan oleh sepsis nifas yaitu suatu kelainan serius yang harus segera diatasi dengan terapi antibiotic.

b. Denyut Nadi

Frekuensi denyut nadi dicatat dua kali sehari. Normalnya frekuensi nadi relatih rendah selama minggu pertama setelah melahirkan. Denyut nadi yang cepat dapat disebabkan oleh infeksi, khususnya jika disertai dengan kenaikan suhu tubuh. Pemeriksaan swab vagina yang tinggi, spesimen mid – stream urin dan swab tenggorok mungkin perlu dilakukan untuk pemeriksaan laboratorium.

Perdarahan postpartum dapat pula menyebabkan kenaikan frekuensi nadi dan melemahnya volume nadi.

c. Tekanan Darah

Setelah 24 jam pertama, tekanan darah diukur dua kali sehari sampai hari ke-4 dan kemudian diukur sekali sehari. Bila diperlukan, tekanan darah dapat diukur lebih sering seperti yang dilakukan pada pasien dengan riwayat pre-eklampsia atau kalau terjadi Perdarahan per vaginan yang cukup banyak atau bila frekuensi nadinya cepat. Tekanan darah yang rendah dapat menunjukkan Perdarahan postpartum. Tekanan darah yang tinggi dapat adanya kemungkinan pre-eklampsia yang timbul setiap saat dalam masa nifas sekalipun kejadian ini jarang terjadi.

d. Tanda – tanda Anemia

Perlu adanya pemeriksaan kondisi ibu tentang kemungkinan ibu mengalami anemia. Sehingga dalam pemeriksaan ini perlu diketahui tentang adanya tanda-tanda anemia seperti ibu terlihat pucat. Konjungtiva mata putih, kontraksi uterus yang jelek dan adanya perdarahan yang banyak. Apabila tanda-tanda tersebut telah diketahui, maka kita dapat menentukan tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Pada pemeriksaan yang normal, tanda-tanda anemia tidak ditemukan pada pemeriksaan ini.

e. Tanda-tanda Oedema

Biasanya adanya Oedema yang menyertai riwayat pre-eklampsia dijumpai pada masa nifas. Namun hal ini masih jarang dijumpai. Pemeriksaan adanya tanda-tanda Oedema juga perlu dilakukan agar pemeriksaan pada ibu tersebut terjadi. Pada pemeriksaan nifas yang normal, tanda-tanda Oedema tidak dijumpai.

f. Refleksi

Refleks dalam pemeriksaan ini bisa termasuk refleks patella dan refleks ibu seperti gerak atau mobilisasi yang dilakukan. Pemeriksaan ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui tentang keadaan ibu dan menentukan tindakan selanjutnya. Normalnya hasil pemeriksaan ini adalah baik, normal.

g. Varises

Pemeriksaan adanya varises diperlukan untuk menentukan tindakan selanjutnya sehingga tenaga kesehatan akan melakukan pengawasan lebih dan meminimalisir komplikasi atau akibat yang mungkin terjadi.

Normalnya dalam pemeriksaan kondisi ibu tidak terdapat varises karena varises merupakan salah satu hal atau tanda yang perlu perhatian dan dapat mengganggu kesehatan ibu.

2. Payudara

Payudara di inspeksi dan dipalpasi dua kali sehari dan kepada ibu ditanyakan apakah payudaranya terasa sakit, pegal atau tidak terasa apa-apa.

Saat pemeriksaan, bidan mencari sikap daerah yang berwarna merah pada payudara dan menginspeksi puting untuk menentukan gejala oedema, fisura atau perdarahan. Bagian-bagian di sekitar payudara termasuk daerah aksila harus teraba normal karena berjalan atau massa yang tidak lazim dijumpai saluran ASI yang tersumbat. Kemudian bidan memeriksa bagian sebelah dalam dengan melakukan palpasi dengan hati-hati dan mencatat setiap daerah yang terasa nyeri saat disentuh.

Hasil pemeriksaan yang normal pada payudara adalah puting susu menonjol, tidak ada nyeri tekan, tidak ada abses, tidak ada pembengkakan dan ASI sudah mulai keluar.

Selain itu terdapat tanda-tanda normal normal pada payudara. Tanda-tanda tesebut yaitu :

a. Pada 3 – 4 hari pertama payudara akan menjadi lebih berat dan mengalami pembesaran.

b. Pembesaran akan berhenti ketika bayi mulai menetek.

c. Bagi ibu yang tidak menyusui, pembesaran akan berhenti dan cenderung menurun seiring dengan menurunnya produksi ASI yang disebabkan proses pengeluarannya tidak mendapat rangsangan dari hisapan bayi.

3. Uterus

Pada pemeriksaan uterus, dikatakan normal apabila tinggi fundus teraba dada atau di bawah umbilikus, teraba keras dan dengan batas tegas. Serta kontraksi uterus baik. Pada akhir kala III berat uterus 1.000 gram. Uterus kemudian mengalami involusi dengan cepat selama 7-10 hari pertama dan selanjuitnya proses involusi ini berlangsung lebih berangsur – angsur.

Setelah postanatal 12 hari, uterus biasanya sudah tidak bisa diraba melalui abdomen dan setelah 6 minggu ukurannya sudah kembali pada ukuran tidak hamil yaitu setinggi 8 cm dengan berat 50 gram.

4. Vulva

Pemeriksaan pada Vulva meliputi pengeluaran lochea, jahitan perineum, pembengkakan, lukan dan hemoroid.

a. Pengeluaran Lochea

Lochea adalah istilah yang diberikan pada pengeluaran darah dan jaringan desidua yang nektrotik dari dalam uterus selama masa nifas. Jumlah dan warna lochea akan berkurang secara progresif.

Lochea dibedakan menjadi 4, yaitu:

1) Lochea Rubra

2) Lochea Sanguilenta

3) Lochea Seraoa

4) Lochea Alba

b. Jahitan Perineum

Perineum akan menjadi kendur setelah melahirkan karena sebelumnya teregang oleh kepala bayi yang bergerak maju. Bahkan karena pergerakan kepala bayi tersebut terkadang perineum robek atau terjadi laserasi perineum. Laserasi diklasifikasikan luasnya robekan, yaitu :

1) Derajat Satu

2) Derajat Dua

3) Derajat Tiga

4) Derajat Empat

Laserasi derajat satu dan dua masih menjadi kewenangan bidan (penolong APN), namun laserasi derajat tiga dan empat bukanlah kewenangan bidan. Sehingga bila ibu mengalami laserasi derajat tiga dan empat segera rujuk ibu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar